Back to Top
KL, Jan 2013. Taken by a friend. 

KL, Jan 2013. Taken by a friend. 

hello, people, after a year or more of my original post. 

Basically I’m busy living, which consisted of holiday, college, life, doing some projects, and posting on other social media sites. 

I know that’s lame. HA!

So, I decided to commemorate my comeback with holiday pictures! I went to Myanmar or Burma last year. Me and my friend, Adel, won second place a photo contest by AirAsia and got return plane tickets (KL-Yangon) (which include our faces being plastered on AA’s email commercial, which we never expected, which was very overwhelming, which which which ENOUGH). The country itself, hmm how do I put it, made me traveled 20 years back.

It was old, rustic, and gracious. 

And of course, made me want to go back. (okay, so we skipped the good ol’ Bagan for God’s sake because all hotels there were fully booked).  I have to visit Bagan someday! if the Burmese government decide I’m not harmful enough for the country and grant me another visa

By the way, I should mention the last picture.

I’m not the one who did that!

Honey, I also love Bigbang and Jiyong but I’m not vandalizing around on the wall in the temple to pronounce my holy love to him. 

bonifasiayr:

video sederhana ini kami buat dengan berbagai keterbatasan. kami putarkan untuk warga Arfai di Manokwari Selatan ketika perpisahan.

sore ini tiba tiba saya rindu sekali dengan Papua. langit di halaman rumah Salomo sore ini warnanya apa kah? sekalian, saya mau cerita tentang mereka :) 

ada yang namanya Salomo, anak kepala suku. setiap sore kami bermain di halaman rumahnya yang adalah, laut. lengkap dengan ikan warna-warni, ubur-ubur, dan Pulau Raimuti. Salomo ini sudah kelas 5 SD tapi tidak bisa membaca. kalau anak-anak lain belajar, dia pasti lari-larian, berenang, memanjat pohon, atau bikin ketapel baru. pernah suatu hari kami belajar bersama, saya bilang pada Salomo.

"Omo, kalau ko bisa jawab sa pu pertanyaan, nanti sa kasi ko permen!"

dia jawab, “ah untuk apa, kalau permen sa pu baaanyak di rumah!” Saya lupa, dia anak kepala suku, apa saja punya. tapi saya senang, jawabannya dan setiap hal yang dia katakan kesannya terlalu diplomatis untuk anak seumurannya. suka memerintah, tapi juga suka memberi. mungkin itulah kenapa dia seorang anak kepala suku.

lain waktu saya bilang, “ko sudah harus bisa baca sedikit sebelum sa pulang ke Jawa.” dan sore itu, semua temannya bermain, dia bawa buku ke rumah laut, menulis huruf A sampai Z pelan-pelan sekali. hari itu Salomo bisa menulis namanya sendiri.

ada lagi namanya Rocky. ayahnya bekerja untuk keluarga Salomo sebagai supir truk. ibunya tidak ada. rumahnya sebesar satu kamar, ada satu tempat tidur, satu lemari, satu tv kecil, dan satu spion truk untuk cermin. saya pertama kali kenal Rocky ketika ia mendayungkan sampan kecil, kecil sekali, untuk saya sampai ke Pulau Raimuti. di situ saya tanya, kalau sudah besar dia mau jadi apa kah. dia bilang, Pastor. dia rajin sekali ke gereja, dengan bajunya yang selalu sama.

Rocky ini cerdas sekali. sangat suka pelajaran bahasa inggris yang sering kami pelajari di pinggir pantai rumah Salomo setiap sore. 

"kau sudah tau angka dalam bahasa inggris sampai berapa kah?" saya tanya ke Rocky waktu itu.

"satu sampai sebelas saja." sore itu, saya beritau Rocky tentang angka dalam bahasa inggris, mulai dari angka dua belas. tidak sampai 15 menit.

besoknya di sekolah, ia memberi saya buku, katanya "Kak Boni, ini dinilai ya!" ia membuat soal sendiri angka sampai jutaan dan dia terjemahkan ke dalam bahasa inggris, tanpa diminta. di bawahnya ada tulisan "ah, malam ini capai sekali belajar". saya hampir menangis di depan kelas waktu itu.

ada juga yang namanya Marcel, terakhir tidak naik kelas dan masih di kelas 4 SD. saya pernah mengajar di kelasnya, memang tidak pintar. tapi bakat bercerita dan melucunya menurut saya hebat. dia suka sekali bikin MOP. saya suka minta dia bikin MOP lagi walaupun saya sering tidak paham maksudnya apa. muka dan ekspresinya saja sudah menghibur.

sesekali Marcel tidak ikut kami bermain, ikut ayahnya mencari ikan di laut. kakaknya tidak melanjutkan sekolah. adiknya waktu itu sedang dirawat di rumah sakit. pernah di malam terakhir kami di Arfai, Marcel tiba-tiba jalan kaki sendirian jauh sekali. cuma karena ingin menginap bersama kami. 

dia ini termasuk paling pendiam di antara teman-temannya. tapi paling banyak menangis ketika kami mau pulang. keluarganya baik sekali, kami diberi cinderamata dari hewan laut yang diambil dari pantai belakang rumahnya. dia bilang, “ini sa dan sa pu mama bikin tadi malam sampaaai mengantuk.”

saya masih ingat sekali, sore terakhir kami bermain di halaman rumah Salomo. waktu itu hanya ada saya, Muti, dan mereka bertiga.

Salomo bilang, “besok pagi pagi, sa mau pergi ke bandara. sa mau lepas tu pesawat pu ban, supaya kakak tara bisa pulang ke Jawa”.

sore itu Rocky sembunyi di bawah jembatan dermaga rumah laut Salomo, menangis di sana. sebelumnya dia bilang, “coba sa bisa putar waktu, seeettt! jadi hari pertama lagi kakak datang ke sini!” Marcel juga menangis lama sekali. kami bisa apa. 

waktu itu sampai gelap, di pinggir pantai halaman rumah Salomo, tiba-tiba mereka bertiga berbaris, menyanyi, “terpujilah wahai engkau, ibu bapa guru…”

dua hari kemudian kami kembali ke Jawa.

beberapa waktu yang lalu tidak sengaja saya membuka satu buku di rak, lima tahun yang lalu saya pernah menulis semacam list of 100 things I want to do, yang tidak selesai.

saya tidak pernah ingat ternyata list nomor 1 yang saya tulis adalah, “mengajar di Papua”. saya sudah sampai di sana. dan hari itu saya lanjutkan di nomor yang masih kosong, saya tambahkan, “belajar lagi di Papua”.

apa yang kami ajarkan di sana tidak sebanding dengan apa yang sudah kami pelajari dari mereka semua. masih ada banyak sekali anak-anak lainnya yang setiap ceritanya, breaks our heart. saya tidak tau bagaimana mereka bisa tetap gembira, setiap hari pergi sekolah, walaupun hujan, walaupun tidak ada guru.

mereka sudah janji mau belajar dengan rajin supaya suatu hari nanti, kami bisa bertemu lagi.

saya yakin warna langit di halaman rumah Salomo sore tadi warnanya indah sekali, seperti biasanya, seperti ketika kami pernah saling belajar di sana.

➜ story of a daydreamer: the team!

mentariwdyst:

ki-ka:

  • Dua cewek british yang nggak sengaja barengan sama kami waktu tour ke Cu Chi Tunnel, Vietnam
  • Mute, si maknae yang hobi jajan sunduk-sunduk dan sering getting high without drinking
  • Boni, si mbak cantik yang ditipu sama ibu-ibu penjual cincau yang gaya jualannya yang hardcore abis
The official things that “do not interest” Kimi Raikkonen list

rarararaikkonen:

  • Press conferences
  • Interviews
  • The media in general
  • Bullshit
  • What Lewis Hamilton says
  • What Fernando Alonso says
  • What was going to happen in the 2006 season
  • What Juan Pablo Montoya says
  • Ron Dennis
  • What Sir Jackie Stewart says
  • The constructors championship
  • What Jarno Trulli says
  • Montoya’s NASCAR career
  • Michael Schumacher in general
  • Life after death
  • What David Coulthard says
  • Tyres
  • What other people say

(via fuckyeahraikkonen)

phuket sneakpeek

  • Q: How do you feel seeing your former team Ferrari struggling so much?
  • Kimi Raikkonen: I don’t care.
A Conversation between The Stig and Kimi
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
  • Stig:
  • Kimi:
wordboner:

available on a tee
more: store | blog | make your own wordboner store | twitter | facebook | coupons | follow wordboner
blank-magic-pages:

Eternal love for Kimi

blank-magic-pages:

Eternal love for Kimi

(via icemankimster)

THEME BY PARTI